
Dalam beberapa hari ini, gw dan Ferdi menerima dua berita duka. Satu dari kenalannya, dan satu lagi adalah teman kos gw di Surabaya dulu. Mereka berdua memiliki keluhan yang mirip sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Bukan lagi percaya nggak percaya, rasanya malah nggak percaya-percaya saat dapet SMS bahwa ybs sudah dipanggil yang kuasa. Waktu Ferdi dapat berita tentang kenalannya, gw sudah deg-degan nggak karuan, rasanya merinding mendengar begitu cepatnya dia meninggalkan keluarganya.
Dan, tadi malam gw akhirnya nggak bisa tidur dan terus-terusan terbayang wajah teman kos gw, mbak Astin. My God, dia selalu tampak enerjik dan aktif.. Gw kenal dia mungkin kurang dari satu tahunan, tapi rasa kehilangannya begitu besar seperti dia itu salah satu keluarga gw. Mbak Astin orang yang gigih, dia dulu ngambil S2 karena beasiswa yang dia dapat dari berpuluh ribu orang yg bersaing. 1 tahun di surabaya, 1 tahun di UK. Dia sudah sempat selesai thesis, namun karena mengeluh sakit dan dokter di Surabaya tidak bisa menangani, terpaksa wisudanya ditunda dan dia kembali ke kampung halaman di Bali.
Sekitar sebulan lalu, dia menelepon dan dia bilang :
"
aduh, aku di rumah sakit di bali nihhh, kenapa ya... kayak ada sesuatu di dalam perutku"
Sama dengan yg dikeluhkan kenalannya Ferdi "
ada sesuatu di dalam perutku".
Belum lagi, kemarin siang sebelum berita duka mbak Astin, Ferdi mendapat missed call dari kenalannya yang baru saja meninggal. Yang ternyata, anaknya sedang main-main hp papanya.
Kaget, bertahun nggak pernah telpon, tiba-tiba kok kebetulan nomor yg didial adalah nomor Ferdi, bikin orang jantungan.... aku bilang, mungkin ada sesuatu yg ingin disampaikan.
Mbak Astin, gw masih nggak percaya dan berharap berita telepon itu salah... tapi kalaupun benar, ria selalu doakan mba Astin agar diterima di sisi-Nya, bukan hanya mbak Astin, untuk mereka berdua yang telah dipanggil di usia dini, mohon doanya agar ybs diterima di sisi-nya dan keluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan dan kekuatan.
Amin.